Sabtu, 02 Oktober 2010

Sepucuk Surat Cinta ( II )

Semilir angin telah membawa kabar padaku, sayangku
tentang burung-burung yang pulang ke rumah di kala senja
tentang wanginya bunga dan rerumputan di antara sinar yang merona
di sela kerinduan akan perjumpaan

Semilir angin senja telah kembali menggugahku, sayangku
Meresapi keagungan pemberian Illahi yang kini tertanam di hati
Menata nilai-nilai demi hari esok nanti
Membisikkan harapanku padamu, sayangku

Semilir angin telah mengusik kegundahanku, sayangku
Menanyakan kabar tentangmu yang tak pernah muncul di hadapanku
Kutau itu wujud perhatiamu dan penjagaanmu
Terima kasih, sayangku

Semilir angin telah membawa malam padaku, sayangku
Mengabarkan waktu yang cepat berlalu
tapi tidak dengan garis wajahmu

2010

Jumat, 01 Oktober 2010

Sepucuk Surat Cinta ( I )

Meredup, bisikmu

Kata itu mengalun penuh kekhawatiran, sayang
Rajutan ini belum sampai pada waktunya
Bersabarlah

Jagakan, sayang
Lentera ini akan menerangi
Lembaran-lembaran yang tak 'kan pernah terbuang
tak 'kan terbungkus oleh gelapnya malam
tak 'kan terpeluk oleh dinginnya kesendirian

Pertahankan, sayang
Pucuk-pucuk mimpi yang akan datang
Di ujung pencarian yang panjang
Menjawab semua tanya dan kegundahan
Pada hari bersama, di depan

2010

Kamis, 30 September 2010

Pulang


Jalan sepi di puncak gunung tinggi
Berkelok merenungi ciptaan Illahi
Mencari jalan pulang yang damai dan sejati
Menyusun langkah-langkah pasti

2010

Selasa, 28 September 2010

Selaras Senja


Selaras nyanyian senja yang selalu menggema
Nada-nadanya beraneka membentuk harmoni dalam sunyi
Menampakkan seraut jiwa yang hampa tak bersua
Melaju menelusuri tepi-tepi hari mencari janji hati

Disaksikan camar-camar yang bergegas pulang
Tak sabar untuk bercengkerama, bercerita yang sejuta
Sang jiwa duduk di ujung senja dengan menutup mata
Mendengarkan bisikan yang tak terbungkus oleh kata
Menerawang jauh ke dalam yang telah terkoyak
Menahan sesak berjuta demi kata setia pada cinta

Ujung-ujung rerumputan menunduk dan bergoyang dengan lembut
Selaras dengan nyanyian nafas yang sepoi tak berdawai
Seolah turut mendendangkan gelora yang meraja dalam dada
Terseret cinta yang mengalir, sambung-menyambung hingga membumbung

Pada pucuk-pucuk senja yang masih menyapa
Sang jiwa lenyap, musnah ditelan cinta

2010

Catatan Pinggiran

Tatap mata yang mengandung isyarat
Sebuah petanda atas gelora yang ada di dalam jiwa
Mengendap-endap membawa aura yang penuh dengan makna
Menitipkan tanya padaku yang terpaku memandang langkahmu

Ucap kata yang membawa kabar kesantunan
Pelan bergerilya mengalun memerdukan telingaku
Terbungkus pada diri yang papa akan harta dan suka

Berjuta langkah telah tertempuh tanpa pamrih
Sebuah uswah kau berikan pada manusia yang alpa
Memadamkan gejolak-gejolak kemalasan
Berjalan, berjalan, dan berjalan

Tak apa jika manusia memandang hanya seorang penjual Koran
Tak apa jika manusia tak sadar kau telah berjalan sepanjang jalan
Tak apa, tak apa menjadi catatan pinggiran

Warna pekat kulitmu berbicara kau seorang pejuang
Menantang pemarjinalan dengan penuh keyakinan
Mengajarkan nilai-nilai kesalehan
tanpa disadari oleh kau, mereka, dan aku

2010