Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 Oktober 2012
Jumat, 05 Oktober 2012
Jumat, 24 Juni 2011
Sisa
Pada siang ketika menyapa titik air di tubuhnya
menyisakan barang yang katanya tak berguna
tapi ingat,
itu menyimpan cinta dan makna
menyisakan barang yang katanya tak berguna
tapi ingat,
itu menyimpan cinta dan makna
Jumat, 08 Oktober 2010
Satu
Dengarkan lirih nafasku, sayangku
mengiringi semua cerita
menyusun berlembar harapan
hanya aku
2010
mengiringi semua cerita
menyusun berlembar harapan
hanya aku
2010
Wangi Petang Hari
Wangi tubuhmu membuka catatan hari
Ketika warna tanah mulai terlihat setelah semalaman dipeluk pekat
Menitipkan senyuman pada butiran-butiran kesucian di dedaunan
Mengisyaratkan berjuta harapan pada kehidupan
Raja hari mulai meninggi di ujung bumi
Memaksa segala yang di sini melahirkan bayang diri
Berwarna gelap berbaris menghadap ke barat
Kau bergerak tak searah bayang dengan tetap menjaga wangi diri
Derit putaran waktu terus mengantarmu melaju
pada raja hari di singgasana paling tinggi
ketika butiran-butiran kesucian di dedaunan menghilang
Berganti debu dan keringat yang selalu menggerayangi
Sampai detik ini tak satupun insan melambaikan tangan
Memanggilmu dengan sapaan dan memberikan berjuta harapan
Kau tawarkan pada ibu-ibu di pasar, mereka yang di jalan
Berusaha menarik hati pelanggan untuk kau antar
Kau paham,
mereka lebih tertarik pada mesin beroda
Roda yang selalu berputar seolah berkejaran
Kau paham,
semakin pupus ratusan bahkan jutaan harapan
Harapan tentang penghasilan, makanan, pendidikan, dan kesehatan
Kau tetap wangi dengan menjaga berjuta harapan
di antara orang memperebutkan dukungan demi kekuasaan
Kau tetap tenang ketika mereka melupakan janji atas kesejahteraan
Meninggalkan kepahitan dan kedukaan
Kau tetap wangi di petang hari
menjadi mimpi-mimpi abadi
2009
Imajinasi
Jalan panjang yang melintang, sebuah mimpi, dan imajinasi
Tumbuh-kembang kebahagiaan di tangan ini
Tidak ada lagi pohon tumbang berganti istana lapang
Tidak ada lagi anak yang mati karena kelaparan
Sebuah imajinasi….
Tidak ada lagi posesif kekuasaan yang menyisakan berjuta jeritan
Tidak ada lagi ledakan di laut dan daratan
Sebuah mimpi….
Tidak lagi terlihat warna kulit yang beda dari kita
Semua sama, di setiap generasi
Kita, anak kita, dan cucu-cucu kita
untuk kehidupan yang lebih baik..
2009
Bintang
Gelap yang memayungi malam
Bertaburkan keindahan bintang-bintang
Berkelap-kelip sejauh mata memandang
Menyiratkan berjuta pertanyaan
tentang penciptaan alam dan rahasia Tuhan
(Sajak untuk anak)
2010
Minggu, 03 Oktober 2010
Sketsa Wajah
Garis-garis yang membentuk kesatuan
menyimpan makna yang tak tertuang pada kata
ada sesuatu yang dapat kubaca
Pada binar mata yang memancar
Pada senyum bibir yang tersimpulkan
Pada air muka yang mewarna
Padamu
2010
menyimpan makna yang tak tertuang pada kata
ada sesuatu yang dapat kubaca
Pada binar mata yang memancar
Pada senyum bibir yang tersimpulkan
Pada air muka yang mewarna
Padamu
2010
Sabtu, 02 Oktober 2010
Jiwa-jiwa Kecil
Jiwa-jiwa kecil yang bernyanyi
Hanyut dalam dendang lagu tak bernada
Jiwa-jiwa kecil yang menari
Gemulai mengikuti alur kehidupan
Jiwa-jiwa kecil yang selalu berucap
Mengungkap makna yang tak terbungkus kata
dalam gerak yang menjadi bijak.
2010
Sepucuk Surat Cinta ( II )
Semilir angin telah membawa kabar padaku, sayangku
tentang burung-burung yang pulang ke rumah di kala senja
tentang wanginya bunga dan rerumputan di antara sinar yang merona
di sela kerinduan akan perjumpaan
Semilir angin senja telah kembali menggugahku, sayangku
Meresapi keagungan pemberian Illahi yang kini tertanam di hati
Menata nilai-nilai demi hari esok nanti
Membisikkan harapanku padamu, sayangku
Semilir angin telah mengusik kegundahanku, sayangku
Menanyakan kabar tentangmu yang tak pernah muncul di hadapanku
Kutau itu wujud perhatiamu dan penjagaanmu
Terima kasih, sayangku
Semilir angin telah membawa malam padaku, sayangku
Mengabarkan waktu yang cepat berlalu
tapi tidak dengan garis wajahmu
2010
tentang burung-burung yang pulang ke rumah di kala senja
tentang wanginya bunga dan rerumputan di antara sinar yang merona
di sela kerinduan akan perjumpaan
Semilir angin senja telah kembali menggugahku, sayangku
Meresapi keagungan pemberian Illahi yang kini tertanam di hati
Menata nilai-nilai demi hari esok nanti
Membisikkan harapanku padamu, sayangku
Semilir angin telah mengusik kegundahanku, sayangku
Menanyakan kabar tentangmu yang tak pernah muncul di hadapanku
Kutau itu wujud perhatiamu dan penjagaanmu
Terima kasih, sayangku
Semilir angin telah membawa malam padaku, sayangku
Mengabarkan waktu yang cepat berlalu
tapi tidak dengan garis wajahmu
2010
Jumat, 01 Oktober 2010
Sepucuk Surat Cinta ( I )
Meredup, bisikmu
Kata itu mengalun penuh kekhawatiran, sayang
Rajutan ini belum sampai pada waktunya
Bersabarlah
Jagakan, sayang
Lentera ini akan menerangi
Lembaran-lembaran yang tak 'kan pernah terbuang
tak 'kan terbungkus oleh gelapnya malam
tak 'kan terpeluk oleh dinginnya kesendirian
Pertahankan, sayang
Pucuk-pucuk mimpi yang akan datang
Di ujung pencarian yang panjang
Menjawab semua tanya dan kegundahan
Pada hari bersama, di depan
2010
Kata itu mengalun penuh kekhawatiran, sayang
Rajutan ini belum sampai pada waktunya
Bersabarlah
Jagakan, sayang
Lentera ini akan menerangi
Lembaran-lembaran yang tak 'kan pernah terbuang
tak 'kan terbungkus oleh gelapnya malam
tak 'kan terpeluk oleh dinginnya kesendirian
Pertahankan, sayang
Pucuk-pucuk mimpi yang akan datang
Di ujung pencarian yang panjang
Menjawab semua tanya dan kegundahan
Pada hari bersama, di depan
2010
Kamis, 30 September 2010
Pulang
Jalan sepi di puncak gunung tinggi
Berkelok merenungi ciptaan Illahi
Mencari jalan pulang yang damai dan sejati
Menyusun langkah-langkah pasti
2010
Langganan:
Postingan (Atom)