Jumat, 08 Oktober 2010

Satu

Dengarkan lirih nafasku, sayangku
mengiringi semua cerita
menyusun berlembar harapan

hanya aku

2010

Wangi Petang Hari


Wangi tubuhmu membuka catatan hari
Ketika warna tanah mulai terlihat setelah semalaman dipeluk pekat
Menitipkan senyuman pada butiran-butiran kesucian di dedaunan
Mengisyaratkan berjuta harapan pada kehidupan

Raja hari mulai meninggi di ujung bumi
Memaksa segala yang di sini melahirkan bayang diri
Berwarna gelap berbaris menghadap ke barat
Kau bergerak tak searah bayang dengan tetap menjaga wangi diri

Derit putaran waktu terus mengantarmu melaju
pada raja hari di singgasana paling tinggi
ketika butiran-butiran kesucian di dedaunan menghilang
Berganti debu dan keringat yang selalu menggerayangi

Sampai detik ini tak satupun insan melambaikan tangan
Memanggilmu dengan sapaan dan memberikan berjuta harapan
Kau tawarkan pada ibu-ibu di pasar, mereka yang di jalan
Berusaha menarik hati pelanggan untuk kau antar

Kau paham,
mereka lebih tertarik pada mesin beroda
Roda yang selalu berputar seolah berkejaran

Kau paham,
semakin pupus ratusan bahkan jutaan harapan
Harapan tentang penghasilan, makanan, pendidikan, dan kesehatan

Kau tetap wangi dengan menjaga berjuta harapan
di antara orang memperebutkan dukungan demi kekuasaan
Kau tetap tenang ketika mereka melupakan janji atas kesejahteraan
Meninggalkan kepahitan dan kedukaan

Kau tetap wangi di petang hari
menjadi mimpi-mimpi abadi

2009

Imajinasi


Jalan panjang yang melintang, sebuah mimpi, dan imajinasi
Tumbuh-kembang kebahagiaan di tangan ini

Tidak ada lagi pohon tumbang berganti istana lapang
Tidak ada lagi anak yang mati karena kelaparan
Sebuah imajinasi….

Tidak ada lagi posesif kekuasaan yang menyisakan berjuta jeritan
Tidak ada lagi ledakan di laut dan daratan
Sebuah mimpi….

Tidak lagi terlihat warna kulit yang beda dari kita
Semua sama, di setiap generasi
Kita, anak kita, dan cucu-cucu kita

untuk kehidupan yang lebih baik..

2009

Bintang


Gelap yang memayungi malam
Bertaburkan keindahan bintang-bintang
Berkelap-kelip sejauh mata memandang
Menyiratkan berjuta pertanyaan
tentang penciptaan alam dan rahasia Tuhan

(Sajak untuk anak)
2010


Minggu, 03 Oktober 2010

Sketsa Wajah

Garis-garis yang membentuk kesatuan
menyimpan makna yang tak tertuang pada kata
ada sesuatu yang dapat kubaca

Pada binar mata yang memancar
Pada senyum bibir yang tersimpulkan
Pada air muka yang mewarna

Padamu

2010

Sabtu, 02 Oktober 2010

Jiwa-jiwa Kecil


Jiwa-jiwa kecil yang bernyanyi
Hanyut dalam dendang lagu tak bernada

Jiwa-jiwa kecil yang menari
Gemulai mengikuti alur kehidupan

Jiwa-jiwa kecil yang selalu berucap
Mengungkap makna yang tak terbungkus kata

dalam gerak yang menjadi bijak.

2010

Sepucuk Surat Cinta ( II )

Semilir angin telah membawa kabar padaku, sayangku
tentang burung-burung yang pulang ke rumah di kala senja
tentang wanginya bunga dan rerumputan di antara sinar yang merona
di sela kerinduan akan perjumpaan

Semilir angin senja telah kembali menggugahku, sayangku
Meresapi keagungan pemberian Illahi yang kini tertanam di hati
Menata nilai-nilai demi hari esok nanti
Membisikkan harapanku padamu, sayangku

Semilir angin telah mengusik kegundahanku, sayangku
Menanyakan kabar tentangmu yang tak pernah muncul di hadapanku
Kutau itu wujud perhatiamu dan penjagaanmu
Terima kasih, sayangku

Semilir angin telah membawa malam padaku, sayangku
Mengabarkan waktu yang cepat berlalu
tapi tidak dengan garis wajahmu

2010

Jumat, 01 Oktober 2010

Sepucuk Surat Cinta ( I )

Meredup, bisikmu

Kata itu mengalun penuh kekhawatiran, sayang
Rajutan ini belum sampai pada waktunya
Bersabarlah

Jagakan, sayang
Lentera ini akan menerangi
Lembaran-lembaran yang tak 'kan pernah terbuang
tak 'kan terbungkus oleh gelapnya malam
tak 'kan terpeluk oleh dinginnya kesendirian

Pertahankan, sayang
Pucuk-pucuk mimpi yang akan datang
Di ujung pencarian yang panjang
Menjawab semua tanya dan kegundahan
Pada hari bersama, di depan

2010